menghadap ke barat
`Menengok` Lebih Pas
Oleh VINIA RIZQI .P.
Peringatan seratus tahun STA mengingatkan kembali pada kita mengenai suatu pemikirannya yang kental, Indonesia harus bercermin dan berkiblat ke barat.
Seratus tahun STA diperingati oleh para penikmat sastra maupun masyarakat umum. Mereka memperingatinya dengan berbagai hal, seperti meluncurkan website, pembacaan puisi karya STA, doa bersama, tabur bunga, dan pengenalan lebih jauh tentang sosok STA. Tokoh penulis Layar Terkembang ini dikenal sebagai pelopor pemikiran fenomenal bahwa apabila bangsa Indonesia ingin maju, maka kita harus bercermin pada budaya barat. Sekali lagi, hanya budaya barat. Tiada yang lain. Namun, apabila pemikiran tersebut dikaitkan dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia pada saat ini, nampaknya pemikiran itu sudah tidak relevan.
Budaya merupakan hasil karya manusia melalui cipta, rasa, dan karsa yang bersumber pada diri tiap – tiap manusia. Pola pemikiran bangsa Indonesia sudah tentu berbeda dengan pola pemikiran barat. Berkiblat pada `budaya` barat adalah sepenuhnya mencontoh perilaku atau perihal apapun sesuai dengan norma dan nilai orang barat. Bukan dengan norma dan nilai yang sesuai dengan kepribadian Indonesia. Kita sebagai orang Indonesia tentunya mempunyai kaidah dan aturan yang berlaku bagi kehidupan yang bersumber dari Pancasila dan UUD 1945, yang masih dijadikan pandangan hidup bangsa Indonesia sampai saat ini. Bercermin dan berkiblat pada budaya orang lain sama saja dengan kehilangan jati diri. Kita malah tidak akan bisa menjadi bangsa yang berkembang, bangsa yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Otomatis, apabila kita mengikuti budaya barat, ketika bangsa kita ada masalah, kita juga harus menemukan solusinya dengan cara barat pula. Kita akan dijadikan `bidak kebudayaan` dan bangsa baratlah sebagai `raja`nya. Lambat laun kita bisa mengalami `penjajahan yang terulang`. Penjajahan dalam bidang agama, pemerintahan, organisasi sosial, kelompok kepentingan, dan unsur – unsur kebudayaan lain yang berkaitan. Dijajah, tidak selalu berlaku untuk fisik, tapi bisa juga terjadi pada moral dan mental.
Berkiblat ke barat seolah – olah memberikan statement bahwa bangsa baratlah yang peradaban dan kebudayaannya paling bagus. Bangsa barat seolah – olah menjadi sesuatu yang `didewakan` dan selalu harus dihormati. Selain itu, akan nampak semacam the double country antara Indonesia dengan bangsa barat yang mau tidak mau akan menghilangkan ciri khas budaya asli Indonesia sendiri. Padahal bangsa Indonesia memiliki ciri khas tersendiri dalam kebudayaannya yang telah diwariskan nenek moyang terdahulu. Dan ciri khas itulah yang membuat diri kita bisa dikenal bangsa lain. Ada pepatah Jawa berkata `Negara mawa tata, desa mawa cara` ( baik negara dan desa memiliki budaya sendiri – sendiri dalam kehidupannya) .
Mungkin bercermin dan berkiblat pada budaya barat akan lebih pas apabila diganti dengan `menengok`. Hal ini akan menimbulkan motivasi bagi bangsa kita untuk bisa berkiprah lebih baik. Kita boleh saja menengok kemajuan budaya barat dan merealisasikannya pada budaya kita. Dengan catatan, tidak sepenuhnya menjiplak, hanya menengok, apa – apa saja yang pantas diadopsi dan apa yang tidak. Akan tetapi, hal itu tentunya juga tidak lepas dari proses penyaringan dan penyesuaian dengan norma dan nilai yang berlaku di Indonesia karena tidak semua budaya barat itu sesuai dengan norma dan nilai di Indonesia.
Budaya kita juga tidak kalah dengan budaya lain. Sopan, ramah, kegotongroyongan adalah salah sekian aset budaya kita yang kekal. Budaya yang harus dilestarikan. Apa salahnya apabila kita tetap mencintai budaya kita? Semakin kita mencintai, kita akan memiliki. Semakin kita memiliki, kita akan menjaga. So, just be Indonesia!!
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda